Geng motor

Berkali-kali Polisi Gagal Periksa Anggota TNI Rekan Arifin

Kompas.com - 16/04/2012, 15:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Daerah Metro Jaya sudah berkali-kali berupaya memanggil Albert, saksi kunci dalam kasus tewasnya Kelasi Arifin di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara namun pemeriksaan selalu gagal. Pasalnya, Albert yang juga anggota TNI AL ini belum pernah memenuhi panggilan kepolisian.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Senin (16/4/2012), di Mapolda Metro Jaya. "Sudah beberapa panggilan kami layangkan melalui kesatuannya tapi memang belum juga," ujar Rikwanto.

Rikwanto mengatakan, hari ini polisi kembali memanggil Albert untuk diperiksa di Polres Metro Jakarta Utara. Namun, Rikwanto belum bisa memastikan apakah yang bersangkutan akan memenuhi panggilan ini atau tidak.

"Rencananya hari ini dihadapkan untuk diperiksa di Polrestro Jakarta Utara. Semoga saja panggilan yang ke sekian kali ini, yang bersangkutan bisa sampaikan kesaksiannya untuk pertama kali," ucap Rikwanto.

Saat ditanyakan alasan sulitnya memanggil Albert, Rikwanto membantah pihaknya menemukan kesulitan memeriksa anggota TNI. "Tidak ada kesulitan. Itu cuma mekanismenya saja, kami sudah layangkan ke sana," tuturnya.

Rikwanto juga menjelaskan bahwa koordinasi antara Polda Metro Jaya dan jajarannya dengan POM TNI sudah berlangsung cukup baik. "Tim kami bagi, jadi tim Polda dan Polres suplai info ke POM TNI. Sebaliknya, POM TNI juga suplai ke kami," kata Rikwanto.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI AL, Laksama Untung Suropati, menjelaskan, pada Sabtu (31/3/2012) tengah malam, Arifin berboncengan sepeda motor bersama Albert hendak menuju kapal untuk mengambil sepatu futsal. Namun, saat melintas di Jalan Benyamin Sueb, Arifin melihat ada kerumunana orang. Arifin mendekati kerumunan itu dan ternyata ada seorang sopir truk yang sedang dianiaya sekelompok pemuda.

"Karena mungkin terpanggil, dia akhirnya melerai. Ternyata, justru dia yang kena keroyok," ujar Untung.

Sementara Albert langsung melarikan diri meninggalkan Arifin dan sepeda motornya ke lokasi kejadian. "Dia kabur dan lapor ke Pomal. Baru diketahui kemudian, Arifin tewas di sana," ucapnya.

Arifin tewas dengan luka bacok di bagian punggung. Polisi sudah membekuk satu orang tersangka dalam kasus itu, yakni JRR (21), warga Koja, Jakarta Utara. Polisi menduga ada lebih dari 10 orang pelaku yang mengeroyok JRR dan kini masih dikejar aparat kepolisian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau